Yeah! 92 Ribu Petani di Gowa Bakal Dapat Kartu Tani Pupuk Bersubsidi

0
Yeah! 92 Ribu Petani di Gowa Bakal Dapat Kartu Tani Pupuk Bersubsidi
Sosialisasi terkait penerimaan bantuan kartu Tani di Kabupaten Gowa. Foto: Istimewa

Suaraturatea.com, Gowa – 92 ribu orang petani yang tersebar di wilayah Kabupaten Gowa, disebut-sebut akan menerima bantuan kartu tani.

Mereka yang terdaftar ini merupakan petani yang telah terdaftar dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Pupuk dan Pestisida, Ichsan mengatakan, dari 92 ribu itu, kartu tani itu baru tercetak saat ini setidaknya 23.000.

“Secara keseluruhan Kartu Tani untuk Kabupaten Gowa yang telah tercetak sebanyak 92.000 Kartu Tani berdasarkan NIK, namun untuk sementara baru 23.000 yang ada di Gowa. Selebihnya kita tinggal menunggu kiriman dari pusat,” kata dia.

Kartu tani pupuk bersubsidi, kata dia, yang akan didapatkan oleh petani pemanfaatannya diperuntukkan di tahun 2021 mendatang. Tahun ini difokuskan untuk pendataan dan pendistribusiannya.

“Jadi kartu tani ini mulai berlaku tahun depan, dimana setiap petani yang mendapatkan kartu akan mendapatkan kuota berdasarkan jatah yang telah ditetapkan. Kemudian petani yang akan membeli pupuk subsidi tinggal membawa kartu tani datang ke agen atau pengecer yang telah ditunjuk,” jelas Ichsan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, Sugeng Priyanto mengatakan bahwa tahun ini untuk mendapatkan pupuk bersubsidi petani harus terdaftar dalam data sistem e-RDKK.

Mereka nantinya akan terdaftar sebagai penerima pupuk subsidi melalui Kartu Tani yang diterapkan Kementerian Pertanian (Kementan).

“Pupuk bersubsidi ini hanya diperuntukkan bagi petani yang masuk dalam kelompok tani dan telah diakses melalui RDKK. Dimana petani yang bisa diakses dalam RDKK adalah petani yang betul-betul berprofesi sebagai petani yang memiliki lahan tidak lebih dari dua hektar,” ujarnya.

Terpisah, Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Kamsina saat mengaku sangat setuju dengan sistem ini.

Menurutnya sistem e-RDKK dirasa tepat untuk mengevaluasi distribusi pupuk bersubsidi yang didistribusikan kepada petani.

“Sistem ini sangat baik karena memang betul-betul petani hanya petani tulen yang bisa mendapatkan pupuk bersubsidi ini. Sekaligus sistem ini dapat meminimalisir penyelewengan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab,” pungkasnya.

Tak hanya itu saja, Kamsina juga menjelaskan bahwa kelangkaan pupuk yang terjadi saat ini sebenarnya bukan karena kekurangan pupuk. Hanya teknik pemakaian pupuknya yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan aturan.

“Petani kita itu masih menggunakan teknik pemakaian pupuk cara lama, kalau dulu pemakaian pupuk untuk satu hektar lahan menggunakan pupuk sebanyak 8 sak. Sekarang untuk lahan satu hektar cukup 6 sak saja sehingga para petani kita merasa kurang karena pemakaiannya tidak sesuai dengan aturan,” pungkasnya.

| Penulis : Ibnu Gaffar

Berkomentar dengan bijak!