Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Ini Fungsi Bakar Ban saat Demo

0

SUARATURATEA.COM – Pengesahan omnibus law Undang Undang Cipta Kerja berbuntut panjang. Sejumlah elemen, dari buruh hingga mahasiswa di sejumlah daerah turun ke jalan menentang pengesahan tersebut.

Mereka menilai Undang Undang Cipta Kerja bakal merugikan buruh dan pekerja.

Aksi unjuk rasa menyampaikan pendapat yang awalnya berjalan tertib, lantas berubah menjadi ricuh. Hal itu terjadi di sejumlah daerah.

Aksi membakar ban, lempar batu, hingga tembakan gas air mata untuk membubarkan massa pun terlihat di sejumlah daerah.

Muncul pertanyaan, mengapa aksi demontrasi di Indonesia selalu identik dengan aksi bakar membakar

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono mengatakan, aksi membakar barang seperti ban bekas atau barang lainnya adalah suatu simbol tertentu.

Simbol tersebut ditujukan kepada semua publik dan pihak yang diprotes bahwa permasalahan yang disuarakan sudah membara.

“Bakar-bakaran dalam demonstrasi itu merupakan sebuah simbol yang ditunjukkan ke publik dan semua orang bahwa masalah itu sudah membara,” ujarnya, melalui Kompas.com, Rabu (14/10/2020).

Menurutnya, ada satu peringatan di balik pembakaran tersebut yakni sebagai peringatan bahwa siapa saja, terutama pihak yang ditujukan dalam demonstrasi, akan terbakar dan hangus hingga habis.

“Ini suatu simbol yang dipakai sebagai sebuah bentuk ikatan untuk perlawanan,” paparnya.

Aksi bakar-bakar tersebut juga dijadikan simbol semangat bahwa mereka sudah sampai pada titik yang serius.

“Tidak sekedar menyuarakan pendapat, diterima atau tidak diterima lalu pulang. Tidak sekedar loncat-loncat, tetapi bakar-bakar tadi bisa diibaratkan mereka sudah di level puncak,” imbuhnya.

Demonstrasi dengan membakar ban sudah terjadi sejak lama, khususnya di kota-kota besar.

“Demonstrasi dengan bakar ban dari dulu biasa terjadi di kota-kota, khususnya di tengah jalan raya. Ini cara efektif melumpukan jalur transportasi di kota dan sekaligus untuk menarik perhatian orang di jalan,” pungkasnya.

Berkomentar dengan bijak!