Temukan Kami di Sini:

Siap ‘Rebutan’ Kursi dengan Iksan Iskandar, Suharto: Bupati Tidak Bisa Lolos Administrasi

0
Siap 'Rebutan' Kursi dengan Iksan Iskandar, Suharto: Bupati Tidak Bisa Lolos Administrasi
Siap 'Rebutan' Kursi dengan Iksan Iskandar, Suharto: Bupati Tidak Bisa Lolos Administrasi

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Kubu Suharto dan Iksan Iskandar menjelang Musda kian memanas. Kubu Suharto melempar peluru untuk bisa mendapatkan kursi ketua DPD II Golkar.

Beberapa hari menjelang Musda Golkar DPD II Jeneponto, kubu Suharto melempar tudingan terhadap Iksan Iskandar yang merupakan petahana Ketua Golkar.

Suharto merupakan lawan politik Iksan Iskandar pada kontestan ini. Suharto menyebut bahwa Iksan sebenarnya tidak bisa lolos karena tidak memenuhi syarat administrasi.

“Pak bupati itu secara administrasi dia tidak bisa lolos karena dipersyaratan wajib lima tahun jadi pengurus begitu,” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon, Selasa, (9/3/2021).

Menurut dia, jika bupati ngotot untuk tetap bertarung, maka dinilai telah melanggar. Pasalnya, aturan partai harus lima tahun menjadi pengurus. Sedangkan, bupati belum.

“Pasti melanggar kalau dia paksakan, sampai beliau mendaftar usia kepengurusannya baru 3 tahun lebih sementara untuk persyaratan wajib 5 tahun jadi pengurus,” jelasnya.

Dia menuding, bahwa panitia dengan kubu Iksan itu bersekongkol karena masa periode pimcam yang dicopot belum berakhir. Sedangkan, penganti pimcam yang dicopot adalah pelaksana tugas (Plt).

“Perselongkolan sudah pasti kan dia lakukan, kenapa sampai pimpinan kecamatan yang masa periodenya kepengurusannya 2022 tiba-tiba di PLt, kan mestinya ada syaratnya orang di Plt,” ungkap eks sekertaris golkar ini.

Dia menambah, bahwa dirinya juga telah melakukan lobi-lobi ke DPP Golkar Sulsel. Hanya saja, DPP Sulsel belum mengelurkan diskrisi sampai pendaftaran calon ini.

Dia juga menyoroti stering coomite yang dinilai tidak bekerja bersungguh-sungguh.

“Kalau DPP sampai detik ini belum dikeluarkan diskrisi, dia kan mengurus diskrisi dan sampai pendaftaran itu diskrisinya belum turun. Nah kalau stering komite bekerja bersungguh sungguh, otomatis beliau sudah gugur karena dia tidak masukan diskrisi, sementara dipersyaratan itu satu saja persyaratan tidak dimasukan maka dinyatakan gugur. Inilah persoalanya, jadi stering komite harus konsikuen dengan kriteria yang keluar,” pintanya.

Dia juga mengaku tak tahu mengapa diskrisi tersebut belum keluar. Kata dia, hal ini dibicarakan oleh DPP.

“Persoalanya kan stering komite itu berkas belum dia buka hanya orang DPP bicara sampai detik ini deskrisinya belum keluar seperti itu.

“Ahh itu yang saya tidak tahu seperti apa anunya, yang pasti beliau itu mengurus diskrisi,” sambungnya.

Dia menampik, bahwa memang Iksan dinilai layak masuk karena dia adalah seorang Bupati. Hanya saja, di periode kepemimpinan iksan dinilai belum maksimal.

Pasalnya, istri dan anak Iksan, pernah maju sebagai caleg DPR RI dan DPDR Provinsi dari partai Nasdem. Sehingga, Iksan Iskandar dituding bekerja untuk Naskem.

“Sebenarnya dia seorang bupati layak, cuman saya anggap dia sudah tidak bekerja maksimal ini di periode lalu, dasarnya dia ketua Golkar lalu kemudian istrinya masuk caleg pusat dari partai nasdem, terus anaknya masuk caleg Nasdem Provinsi dan suaranya besar, jadi persoalanya kita semua di bawa tahu kalau dia bekerja untuk Nasdem, kepentinganya apa,” tukasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Pimpinan Kecamatan (Pimcam) Binamu, Sudirman Sappara menangapi tudingan tersebut.

Menurut dia, yang menentukan paslon lolos atau tidaknya nanti ketika di forum Musda dan berkas paslon dibuka dihadapan peserta. Olehnya itu ia menganggap bahwa Suharto keliru menafsirkan. Pasalnya, Suharto bukan pengurus melaingkan mantan pengurus.

“Jadi saya kira untuk memutuskan dia bersyarat atau tidak bukan paslon, karena dia tidak lolos nanti di forum musda. Jadi saya menganggap keliru pak Suharto dia menafsirkan jika pak Iksan Iskandar tidak lolos, dari mana sumbernya dia bukan pengurus hanya mantan pengurus,” jelasnya.

“Jadi orang ditetapkan calon ketua nanti forum musda pada saat pembacaan kriteria calon l, sekarang ini baru mendaftar semua calon baru mengembalikan formulir,” sambungnya.

Kata dia, kedua calon saat ini masih dalam tahap pengembalian formulir bakal calon ketua.

“Jadi kemarin kan baru mengembalikan formulir mendaftar, kita belum tahu lolos atau tidak, yang mengetahui lolos atau tidak ketika berkasnya nanti dibuka didepan peserta Musda setelah dibacakan kriteria-kriteria syaratanya, disitu baru ditahu, oh itu tidak lolos karena tidak memenuhi syarat 30 persen peserta,” terangnya.

Dia juga mengaku tak tahu siapa yang akan lolos nantinya. Sehingga, ia mengaku heran dari mana dasar Suharto.

“Sekarang ini tidak ada yang tahu, makanya saya heran kok Suharto bisa tahu, dari mana meraba-raba. Yang boleh tahu itu adalah SC pada saat dipeserta Musda karena dia yang pegang berkas bakal calon ketua, saya tidak tahu dasarnya dimana,” katanya.

Sudirman Sappara juga menyarankan agar Suharto tak terlalu jauh mencampuri dapur Iksan. Yang terpenting, kata dia, adalah Suharto harus melengkapi serangkaian persyaratan.

“Dia Bukan SC saya kira dia lebih paham itu, tetapi saya menganggap keliru pak Suharto menafsirkan orang, ngurusin orang, saya kira ngurusin diri aja lah, suruh lengkapi berkasnya yang terpenting kan ngapain ngurusin orang. Yang menetapakan orang lolos atau tidak pada saat di forum Musda setelah diverifikasi berkasnya oleh pimpinan sidang berdasarkan dengan laporan stering coomite,” terangnya.

Dia juga mencontohkan seperti Ketua Golkar DPD II Golkar yang baru terpilih yakni, Appi. Appi deketahui tak pernah menjadi pengurus selama 5 tahun, namun mendapatkan diskresi dari DPP Sulsel.

“Kita tidak tahu di Golkar itu, saya contohkan sama dengan pak Appi yang sekarang terpilih ketua Golkar Makassar. Pak appi ini sama dia tidak pernah menjadi pengurus selama 5 tahun, tetapi pak Appi ini mendapatkan diskresi dari DPP Golkar, kita tidak tahu apakah pak Iksan Iskandar mendapatkan perlakuan yang sama, karena tidak mungkin pak Iksan maju sebagai calon kalau dirinya menganggap ada yang tidak bersyarat,” pungkasnya.


Penulis : Arya Pratama  |  Editor : Reza Demil

Berkomentar dengan bijak!