Temukan Kami di Sini:

Sederet Fakta Kepsek ‘Cabul’ SMK 1 Jeneponto, Barang Bukti Ada, Jadi Tersangka Tapi Tak Ditahan

0
Sederet Fakta Kepsek 'Cabul' SMK 1 Jeneponto, Barang Bukti Ada, Jadi Tersangka Tapi Tak Ditahan
Sekolah SMK Negeri 1 Jeneponto

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Kepsek SMK 1 berinisial KM, pria yang diduga melakukan pelecehan seksual telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik PPA Polres Jeneponto, tapi tak ditahan.

Status tersangka KM yang juga merupakan oknum kepala sekolah di SMK Negeri 1 Jeneponto ini telah dikeluarkan pada tanggal 7 April 2021 lalu. Berikut inilah fakta-fakta terkait kasus pelecehan tersebut;

Hal itu dikatakan Kanit PPA Polres Jeneponto, Ipda Uji. KM ditetapkan tersangka usai dilakukan penyidikan dengan menaikkan status pasca dilakukannya gelar perkara.

BACA JUGA : Pelecehan Seksual, Kepsek SMKN 1 Jeneponto Terancam 15 Tahun Penjara

“Penetapan tersangka sudah, kalau perkara naik sidik sudah,” ungkapnya kepada wartawan di Jeneponto.

Padahal pihaknya diketahui telah mengantongi dua barang bukti dalam kasus dugaan pelecehan seksual ini.

“Secara otomatis begitu, ketika penyidik menaikan ke sidik itu sudah dua alat bukti, begitu juga penetapan terlapor jadi tersangka, kami sudah yakin minimal dua alat bukti itu,” terangnya.

Ancaman Penjara

Meski sudah mengantongi dua barang bukti untuk mengungkap kasus ini, kata Uji, tak bisa dijelaskan lebih detail apa saja barang bukti yang telah diamankan olehnya.

BACA JUGA : Penahanan Kepsek SMKN 1 Jeneponto Ditangguhkan, LBH Makassar Angkat Bicara

Sementara sejauh ini dalam kasus pelecehan seksual yang dialami NF, ternyata KM diganjar dengan dua pasal, yakni, Pasal 882 ayat 1 dan pasal 15 ayat 2.

“Ancamanya 15 tahun penjara, pokonya dua pasal yang disampaikan ke media,” pungkasnya.

Sementara dari hasil gelar perkara yang dilakukan, kata dia, tersangka masih menyangkal atas perbuatannya terhadap NF yang juga adalah siswinya berusia 17 tahun.

“Kalau intinya, pelaku diam dan tidak mengakui perbuatanya (melakukan pelecehan seksual, red), itu adalah hak mereka,” sambung Uji.

LBH Makassar Angkat Bicara

Kendati demikian, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang mendengar informasi bahwa KM saat ini tengah ditangguhkan masa penahanannya langsung menyoroti.

BACA JUGA : Pelecehan Seksual Siswi, Kepsek SMK Negeri 1 Jeneponto Ditetapkan Tersangka

Dalam surat tertulisnya, LBH Makasar menyatakan bahwa LBH Menyikapi penangguhan penahanan tersangka kekerasan seksual kepala sekolah SMKN di Jeneponto berinisial KM kepada siswinya pada 29 Maret 2021.

“LBH Makasar menyatakan keberatan atas penangguhan penahanan tersangka oleh penyidik Polres Jeneponto,” ujar Kepala Divisi Perempuan, Anak dan Disinilah LBH Kota Makasar, Rezki Pratiwi, Senin (26/4/2021) dalam suratnya.

Penjelasan Polisi KM Tak Ditahan

Melalui Kasubbag Humas Polres Jeneponto, AKP Syahrul Regama menuturkan bahwa proses penahanan itu harus melalui dua syarat.

Kedua syarat yang dibeberkan kata Syahrul adalah, meteril dan syarat formil. Syarat itulah yang membuat Karim hanya menjalani wajib lapor sambil menjalani proses hukum.

BACA JUGA : Bergulir, Berkas Kepsek ‘Pencabulan’ SMKN 1 Jeneponto Dilimpahkan

KM disebut hanya masuk dalam syarat Materil.

“Terhadap pelaku tidak dilakukan penahanan karena kan itu untuk penahanan sendiri, ada namanya syarat materil dan syarat formil yah. Syarat meteril saat ini alasan tersangka tidak dilakukan penahanan karena selama ini diwajib laporkan (koperatif) untuk mengikuti proses walaupun tidak dilakukan penahanan tapi tersangka saat ini wajib lapor sambil menjalani proses hukum,” ujarnya belum lama ini.

Tak Ada Ahli IT (Information Technologi)

Barang bukti yang dikantongi kata Syahrul, harus dilimpahkan ke tahap lanjutan, yakni mengirim ke Laboratorium Mabes Polri (Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia) dengan dalih tak ada ketersediaan mengecek fakta-fakta dalam percakapan rekaman itu.

Hal ini menjadi salah satu kendala, tak memilik orang-orang IT di Polres Jeneponto.

“Yah begitu lah, terkait dengan alat bukti yah, inikan rekaman. Kalau rekaman berkaitan dengan IT sehingga kita memang tidak ada ahli IT. Jadi ini hasil rekaman dikirim ke laboratorium Polri untuk dilakukan penelitian dan hasilnya nanti kita akan tunggu. Ini rekaman percakapan,” jelasnya.

Nantinya kata dia, setelah barang bukti percakapan itu di kirim ke Labfor Mabes Polri, penyidik akan menganalisa dan hasil analisa itu akan dikaitkan dengan barang bukti yang ada.

BACA JUGA : Uangnya Mendadak Hilang di Bank BRI, Begini Cerita Istri Tukang Tambal Ban di Gowa

“Intinya nanti dalam penelitian ini tidak berbicara korban dan pelaku. Ini hanya menjelaskan nanti terkait meteri percakapan itu seperti apa. Ini hasilnya nanti dianalisa oleh penyidik dan selanjutnya dari hasil analisa penyidik ini sendiri yang dikaitkan dengan barang bukti yang ada. Jika memang sudah ada hasil penelitian ini, dan memang sudah dapat dijadikan barang bukti pendukung maka akan diajukan ke JPU sebagai berkas pelengkap perkara,” ungkapnya.

Mantan Kapolsek Tamalatea ini menambahkan, bahwa berkas perkara tersangka saat ini sudah dalam tahap I.

Namun, berkas perkara itu telah dikembalikan oleh JPU untuk dilengkapi oleh penyidik Polres Jeneponto.

BACA JUGA : Astaga! Tak Senonoh, Pria Naik Motor Pamerkan Kemaluannya

“Kemudian untuk perkembangan berkas perkara saat ini bahwa kasusnya ini sudah dilimpahkan ke Kejaksaan tahap 1 istilahnya, dan selanjutnya berkas perkara ini dikembalikan oleh JPU atau kejaksaan P19. Dan dalam berkas perkara itu ada petunjuk PJU secara tehknis yang harus dipenuhi. Sehingga saat ini berkas perkara ada dalam penyidik sementara dibenahi dan dilengkapi. Sementara penyidik berusaha memenuhi petunjuk JPU untuk melengkapi berkas perkara,” pungkasnya.

Berkomentar dengan bijak!