Ramai-Ramai Kritik Ceramah Habib Rizieq

0
Ramai-Ramai Kritik Ceramah Habib Rizieq

SUARATURATEA.COM – Ceramah Habib Rizieq Shihab pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Petamburan, Jakarta Pusat menuai kritik. Sebab pada acara tersebut, Habib Rizieq menyebut-nyebut kata lonte.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid menyesalkan ceramah Habib Rizieq yang menyebut ‘lonte’ di panggung acara Maulid Nabi. Seharusnya di acara tersebut, setiap ulama memberikan contoh yang baik, seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

“Seharusnya, setiap tokoh masyarakat memberikan contoh yang baik kepada pengikutnya, baik ucapan maupun tindakan. Ulama sebagai pewaris nabi, harus mencontoh akhlak nabi yang selalu menghormati dan memuliakan orang lain, meskipun orang tersebut berbeda keyakinan bahkan orang tersebut sering menghina, merendahkan (meludahi), dan memusuhinya,” ucap Zainut dalam keterangannya, Senin (16/11).

BACA JUGA : UPDATE: 1 ASN dan 3 Warga Pasien Covid-19 di Jeneponto Sembuh

Dia juga meminta agar antartokoh tidak saling menghujat. Para tokoh seharusnya memberikan pesan-pesan ceramah secara santun.

“MUI mengajak semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk tidak saling menghujat dan saling mencela karena hal tersebut bukan akhlak nabi. Kami juga mengimbau kepada semua mubaligh, dai, dan tokoh agama agar dalam menyampaikan pesan-pesan agama dengan menggunakan bahasa yang santun, akhlak yang baik dan tidak melanggar norma hukum dan susila,” kata Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

BACA JUGA : 

Dia mengajak antartokoh untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

“Mari kita saling mengingatkan atau berwasiat, baik dalam hal kebenaran maupun kesabaran, demi menjaga ukhuwah atau persaudaraan, baik persaudaraan keislaman maupun kebangsaan,” katanya.

Kritik juga datang dari wadah habib se-Indonesia, Rabithah Alawiyah. Dia menilai kata-kata lonte tidak pantas dilontarkan Habib Rizieq.

BACA JUGA : Penyaluran Bantuan Sosial Pangan di Jeneponto Berubah, Apa Saja?

“Tentu perkataan yang disampaikan itu tidak elok, apalagi dalam forum seperti itu,” kata Divisi Humas Rabithah Alawiyah dalam keterangannya.

Dalam keterangannya, Rabithah Alawiyah ingin melakukan tabayun, meminta penjelasan kepada Habib Rizieq atas apa yang diucapkan pada momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu.

“Memang, apa pun konteks dan background-nya, itu tidak elok disampaikan, apalagi oleh seseorang yang memiliki banyak pengikut, panutan, yang tentu memuat tanggung jawab lebih,” katanya.

Seorang tokoh panutan seharusnya berbicara sesuai norma yang baik. Terlebih lagi, Rizieq berbicara dalam forum keagamaan.

“Memang kalau berbicara soal nilai etika dan perilaku, berlaku pada siapa saja. Siapa pun dia harus sesuai berperilaku sesuai norma etika dan kepatutan yang berlaku di masyarakat, apalagi dalam konteks keagamaan,” katanya.

Demikian juga dilontarkan Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

“Sebenarnya, sebutan apapun itu kan bebas nilai ya. Untuk menyebut perempuan nakal misalnya ada lonte, PSK, WTS, dan sebagainya. Hanya kemudian, tempat di mana kata itu diucapkan yang kemudian memberi nilai,” ucapnya.

“Di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang seharusnya di mana umat diajarkan untuk mengingat kebaikan dan ajaran-ajaran Nabi yang mulia, bahkan dipercaya di saat maulid itu Nabi hadir, pengucapan kata ‘lonte’ itu sungguh sangat tidak sopan, merendahkan perempuan,” lanjutnya.

Yaqut menyebut Nabi Muhammad menghargai perempuan, maka seharusnya Habib yang disebut merupakan turunan atau Dzurriyah Nabi Muhammad, tidak seharusnya berujar demikian.

BACA JUGA: Mahasiswi Palopo Dibaiat Aliran Sesat, Isi Pernyataannya Bikin Canggung
DPR Ace Hasan Syadzily juga mengingatkan agar Habib Rizieq menjaga tutur kata sebagai bagian dari bentuk akhlak.

“Menjaga diri untuk bertutur kata yang baik dan menjaga lisan itu salah satu akhlak yang baik. Jelas itu diperintahkan Rasulullah SAW. Itu harus kita pegang dan pedomani, apalagi saat kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Politisi Golkar ini awalnya menduga kepulangan Habib Rizieq dari Saudi akan ada perubahan dari sisi tutur katanya. Seperti jargon yang dibawa Rizieq untuk melalukan revolusi akhlak.

Dia pun mengingatkan soal mengikuti anjuran Nabi Muhammad, Yakni memulai hal baik dari diri sendiri.

“Mari kita sama-sama teladani akhlak Rasulallah SAW. Dimulai dari kita sendiri sebagaimana sabdanya: Ibda’ binnafsik, mulailah dari diri kita sendiri,” ucapnya.

BACA JUGA: Menatap Harapan Baru Hutan Pinus Paccumikang Jeneponto Seluas 65 Hektar

Sementara ahli Tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab justru enggan menyandang gelar habib. Padahal dia salah satu yang dianggap mempunyai garis keturunan Nabi Muhammad SAW.

Dikutip dari siaran langsung di Fan Page Facebook Najwa Shihab, Mufasir dan Menteri Agama era Soeharto itu menjelaskan alasan dirinya enggan dipanggil ‘Habib’.

Menurut Quraish, gelar Habib tidak boleh disandang oleh sembarang orang kecuali memenuhi syarat tertentu. Diantaranya, faktor keilmuan, silsilah keluarga, dan akhlaknya yang benar-benar meneladani Rasulullah SAW.

Gelar Habib bermakna yang mencintai dan dicintai. “Kalau anda mau dicintai lantas nggak mau mencintai, bertepuk sebelah tangan, buruk,” kata Quraish.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak ingin dipanggil Habib,” sambungnya lugas.

Tak hanya itu, Quraish Shihab yang masuk dalam daftar ‘500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia’ itu juga enggan dipanggil dengam sebutan kyai. Dua gelar prestisius itu, lanjut Quraish, diberikan pada seseorang yang mumpuni pengetahuan agamanya, mengamalkan ilmunya, mengabdi di tengah masyarakat, menjawab pertanyaan, dan memberi solusi.

“Karena menurut Al-Quran adalah orang-orang yang mampu memberi solusi terhadap problema kehidupan. Saya merasa bahwa saya belum sampai ke tingkat itu,” terangnya.

“Mereka harus menampilkan sesosok yang paham agama, yang dicintai dan mencintai, segala apa yang nampak darinya sesuatu yang baik. Saya belum sampai ke sana, mudah-mudahan suatu ketika,” pungkas Quraish Shihab. 

Berkomentar dengan bijak!