Protes Pemkab Jeneponto, Warga Tanam Pohon Pisang di Jalan

0
Warga Belakang Pasar Tradisional Karisa, Melakukan Protes Terhadap Pemkab Jeneponto Menanam Pohon Pisang di Jalan

Krg Tawang / Jurnalis
 TURATEA NEWS.com JENEPONTO–Sebagai bentuk protes dan kekecawaan pada pemerintah kabupaten (Pemkab) Jeneponto, warga belakang pasar tradisional Karisa, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, melakukan aksi penanaman pohon pisang di jalan.

Masyarakat sekitar belakang pasar tradisional Karisa, mengadakan aksi protes menanam tiga pohon pisang di akses jalan yang menghubungkan antara pasar dan perumahan sekitarnya. 

Aksi tersebut dilakukan lantaran masyarakat kesal dengan kondisi jalan yang tidak kunjung di aspal dari tahun ke tahun. Sehingga warga gerah dengan jalan becek pada musim hujan, dan berdebu di setia musim panas. Penanaman pohon pisang tersebut sebagai bentuk protes kepada Pemkab  Jeneponto. Karena jalan belakang pasar Karisa tidak di Aspal. 

Warga menanami jalan dengan pohon di pintu belakang pos jaga penarikan retribusi kendaraan masuk dan keluar dari pasar. Sekitar 15 meter satu pohon berjarak 5 meter. Padahal jalan tersebut menghubungkan dua perumahan. Yakni BTN Budimulya, dan BTN Haruna serta menghubungkan jalan ke kecamatan Turatea, dan Kecamatan Kelara, sebagai akses perekonomian yang menghubungkan ibu kota dan kecamatan lainnya. Belum pernah di aspal oleh Pemkab. 

Sementara ada tiga anggota DPRD Jeneponto, bermukim di perumahan dekat pasar Karisa. Yakni Kamaluddin Kasim Dari PKPI, Ali Sadikin dari Partai Nasdem dan Wakil Ketua DPRD Jeneponto H Paris Yasir dari partai Gerindra.  Namun mereka tidak mampu memperjuangankan pengaspalan jalan. Akibat pemerintah tidak lagi peduli kepada masyarakat belakang pasar.  

Bahkan setiap tahunnya jalanan tersebut diusulkan dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang)  mulai tingkat Kelurahan hingga Kecamatan sampai Musrenbang Kabupaten tidak pernah ada niat baik pemerintah untuk mengaspal jalan belakang pasar Karisa. 

Seorang tokoh masyarakat sekitar pasar Karisa, H Raga mengatakan, penanaman pohon pisang ini karena jalana ini tidak diperhatikan pemerintah,  jika diperhatikan jalan ini tidak ada saluran air, serta mirip jalan tani lantara tidak pernah di aspal oleh Pemkab Jeneponto. 

Jalan rusak ini sudah ada 10 tahun tidak diperhatikan pemerintah, padahal janji bupati saat kampanye pilkada tahun lalu, berencana memperbaiki. “Hingga sekarang ini janji tidak pernah dikabulkan. Kami masyarakat belakang pasar merasa kecewa terhadap Pemerintah karena tidak memperhatikan jalan kami,” ujar Raga 

Namun disayangkan, pundi pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari hasil retribusi pajak kendaraan keluar masuk pasar,  yang setiap hari petugas mengumpulkan rupiah selama 10 tahun dari uang rakyat yang disetorkan  ke kasda Pemkab Jeneponto. “Tapi masyarakat belakang pasar Karisa tidak pernah merasakan nikmatnya jalanan mulus selama 10 tahun lamanya. Sehingga kami menanam pohon pisang sebagai bentuk protes kepada Pemkab Jeneponto,” ujar H Raga.

Senada tokoh pemuda sekitar pasar Fauzan mengatakan,  ketiga anggota DPRD setiap tahunnya mereka mengusulkan ke Musrenbang untuk dimasukkan dalam APBD. ” Cuma pemerintah daerah yang tidak punya niat baik memasukan anggaran pengaspalan ke APBD tahun ini. Ketiga anggota DPRD yang bermukin dekat pasar sudah mengusulkan ke dalam APBD,  hanya eksekutif yang menolak mengaspal jalanan ini,” kata Fauzan  

Lain halnya, Karaeng Bulu mengatakan, program Gammara untuk meraih piala adipura yang sering digembar- gemborkan pemerintah dalam beberapa tahun, sepertinya diluar saja bagaikan buah kedondong. Didalamnya kasar sekali,  hanya di luarnya mulus. Beginilah Jeneponto di luar jalan poros Jeneponto mulus sedangkan dalamnya di jalan pedesaan dan kelurahan seperti jalan tani dan kubangan kerbau.

Petugas penarikan retribusi pasar dinas perhubungan (Dishub) Jeneponto, Nursalim Sitaba mengatakan, dirinya hanya menjalankan tugas menarik retribusi kendaraan yang keluar masuk pasar.  Setiap minggu menyetor uang retribusi pajak, Rp 60.000 ke kasda pemkab Jeneponto.

Setiap hari mendapatkan sepuluh ribu rupiah dari hasil retribusi kendaraan. Namun kadang juga ada penguna kendaraan tidak membayar retribusi beralasan jalannya rusak, kata Nursalim. (***)  

Berkomentar dengan bijak!