Presiden Ukraina, Zelensky Siap Satu Meja dengan Vladimir Putin

Presiden Ukraina, Zelensky Siap Satu Meja dengan Vladimir Putin
Presiden Ukraina, Volodimyr Zelensky

SUARATURATEA.COM – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku terbuka untuk berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Israel, namun hanya jika ada sebuah perjanjian gencatan senjata.

Sabtu kemarin, Zelensky mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Naftali Bennett bahwa dirinya siap bertemu Putin di Yerusalem.

Bennett pernah mengunjungi Moskow untuk bertemu Putin, dan juga beberapa kali berbicara dengan Zelensky serta pemimpin Prancis dan Jerman dalam upaya membantu mengakhiri peperangan di Ukraina.

Zelensky mengatakan Bennett telah menginformasikan sejumlah hal terkait dengan pertemuannya dengan Vladimir Putin di Moskow, meski ada beberapa detail yang tidak bisa disampaikan. Selama ini, Putin telah mengabaikan beberapa permintaan dialog dari Zelensky.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers, Zelensky mengatakan Rusia dapat merebut ibu kota Ukraina “hanya jika mereka membunuh kami semua.”

“Jika itu memang tujuan mereka, silakan datang ke sini,” tegas Zelensky, dikutip dari India Today, Minggu, 13 Maret 2022.

“Jika mereka melancarkan pengeboman dan menghapus memori historis dari keseluruhan wilayah, histori Kiev Rus, histori Eropa, maka mereka bisa masuk ke Kiev. Tapi mereka akan tinggal di sana seorang diri, tentu saja tanpa kami,” ungkapnya.

Sekali lagi, Zelensky mengkritik NATO yang menolak mendeklarasikan zona dilarang terbang di atas Ukraina. Penolakan dilakukan meski Zelensky sudah berulang kali memintanya kepada NATO.

Saat ini, Zelensky mengaku sedang berusaha mendatangkan berbagai aset pertahanan udara, namun menolak memaparkan detailnya lebih lanjut.

Rusia melancarkan “operasi militer khusus” di Ukraina pada 24 Februari, yang diklaim harus dilakukan untuk melindungi masyarakat Donbas dan melakukan demiliterisasi serta de-Nazi-fikasi Ukraina.

Namun Ukraina dan negara-negara Barat menganggap pernyataan tersebut sebagai alasan yang dibuat-buat Rusia untuk menjustifikasi invasi. (*)

Berkomentar dengan bijak!