Permata Jeneponto Gelar Seminar Isu Disabilitas dan Kusta

0

 

SUARATURATEA, COM, JENEPONTO – Puluhan pemuda akan merubah pradigma masyarakat desa tentang kusta dan disabilitas melalui kegiatan seminar di gendung Sekolah Dasar, Desa Kapita, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Selasa (10/11/2020).

Mereka tergabung dalam Organisasi Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMata) Cabang Jeneponto. Dimana PerMata mulai melakukan intervensi di Desa Kapita sejak awal 2019 lalu.

PerMata Jeneponto melakukan pemberdayaan kepada orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) dan penyandang disabilitas melalui program Mardika atau Masyarakat Ramah Disabilitas dan Kusta.

Program MARDIKA memiliki tujuan untuk mengembalikan hak dan kesempatan dalam berpartisipasi orang yang pernah mengalami kusta, termasuk penyandang disabilitas tanpa mengalami stigma dan diskriminasi.

Dalam impelementasi program, PerMata Jeneponto memiliki dua strategi intervensi. Pertama adalah penguatan kelompok sasaran. Kedua adalah mempersiapkan lingkungan, termasuk mengupayakan langkah afirmatif dari pemangku kepentingan di tingka lokal.

Ketua PerMata Kabupaten Jeneponto, Kaharuddin menyampaikan, seminar sehari ini dilaksanakan agar seluruh pemangku kepentingan di Desa setempat dapat memahami isu disabilitas dan kusta di Jeneponto

“Untuk berikan pemahaman kepada para pemangku tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Desa Kapita gunanya supaya bagaimana, kedepanya ini kita dari program untuk menciptakan desa engklusif bagaimana tokoh pemangku kepentingan disini bisa berkontribusi dalam hal membantu kegiatan kita,” ujarnya kepada wartawan.

Tujuannya kata dia, adalah ingin melihat desa Kapita menjadi desa ramah tanpa ada lagi batas antara orang penyandang disabilitas dan kusta.

“Tujuan utama kita adalah tercipta desa ramah supaya tidak ada lagi batas antara orang penyandang disabilitas dan kusta masyarakat pada umumnya,” ungkapnya.

Pemahaman yang diberikan kepada peserta adalah agar mereka dapat mengetahui tanda-tanda bakteri kusta. Seperti ada bercak putih yang mati rasa, kemudian, adapula yang kemerah-merahan.

“Kita memperkenalkan tanda-tanda penyakit kusta itu seperti apa, yaitu ada bercak putih yang mati rasa, kemudian adapula yang kemerah-merahan,” katanya.

Menurutnya, penyakit kusta itu tidak terlalu berbahaya. Sebab, obat penyakit kusta tersebut telah ada. Ketika mengkonsumsi obat tersebut selama rentang waktu enam bulan secara rutin, maka mereka akan dinyatakan sembuh total.

“Penyakit kusta itu menular lewat pernafasan yang disebabkan oleh mico bakteri. Namun penyakit kusta ini bisa disembuhkan dan obatnya itu gratis meskipun tidak memiliki kartu BPJS,” jelasnya.

Dia menyarankan, ketika orang memiliki gejala bercak putih yang mati rasa, segera berkomikasi dengan petugas puskesmas setempat.

“Bisa setidaknya mengajukan masyarakat yang terkena tanda-tanda seperti itu, atau paling tidak diinformasikan ke pihak fasilitas kesehatan atau ke PerMata,” tegasnya.

Dia menyakini, melalui seminar tersebut, pemerintah desa dan masyarakat akan semakin mudah dalam implementasi Permendeaa PDTT Nomor 7 Tahun 2020, tentang perubahan kedua atas Permendesa PDTT Nor 11 Tahun 2019 tentang prioritas penggunaan Dana Desa Tahun 2020.

“Dimana dal regulasi tersebit dijelaskan tentang pengembangan desa Inklusi,” ucapnya.

Lanjut, alasan Desa Kapita dipilih karena terdapat pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta yang masih memerlukan dukungan untuk mewujudkan aktualisasi diri.

“Ditambah lagi dengan dukungan dari pemerintah desa, serta kerjasama lintas sektor yang kuat akan mampu menjadi kunci utama dalam merealisasikan masyarakat yang inklusi, melalui kebijakan, program dan anggaran desa,” pungkasnya.

Kegiatan seminar menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan, Kementrian Agama dan PPDI Sulsel.

Sementara peserta yang berjumlah puluhan orang yang terdiri dari unsur tokoh agama, majelis taklim, Muhammadiyah, BKPRMI, Guru TKTPA, tokoh masyarakat dan pemerintah Desa Kapita.

 

Penulis: Arya Pratama

 

Berkomentar dengan bijak!