Temukan Kami di Sini:

Menyedihkan, ABK MT Ocean Hamza Asal Jeneponto Terlantar di Timor Leste Selama 4 Bulan

Setidaknya ada 21 orang ABK (Anak Buah Kapal) yang merupakan warga Indonesia. Satu diantaranya merupakan warga Kabupaten Jeneponto.

0
Menyedihkan, ABK MT Ocean Hamza Asal Jeneponto Terlantar di Timor Leste Selama 4 Bulan
Menyedihkan, ABK MT Ocean Hamza Asal Jeneponto Terlantar di Timor Leste Selama 4 Bulan

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Puluhan ABK Kapal MT Ocean Star dikabarkan tengah terkatung-katung di Laut Timor Leste, satu diantaranya ada salah seorang warga Kabupaten Jeneponto.

Setidaknya ada 21 orang ABK (Anak Buah Kapal) yang merupakan warga Indonesia. Satu diantaranya merupakan warga Kabupaten Jeneponto.

Identitas warga Jeneponto itu adalah, Amir Hamzah Ranta.

BACA JUGA : Rekonstruksi Tersangka Lalo di Jeneponto Habisi Nyawa Kakek Sanusi di Adegan Ini

Berdasarkan video yang tersebar luas, suasana itu memperlihatkan tentang kondisi para ABK yang memperihatinkan.

Di video itu tampak para ABK duduk di atas kapal. Sebagian dari mereka terlihat tengah menyantap mie instan tanpa di masak. Selain itu juga ada yang tengah mengambil air.

ABK warga Jeneponto itu diketahui merupakan warga Desa Parasangang Beru, Kecamatan Turatea.

BACA JUGA : Buruan, Masih Ada Kesempatan Jalur Mandiri JNS Unhas! Begini Syarat dan Cara Pendaftarannya

Dirinya mengaku, bahwa saat ini Amir dan 20 ABK lainnya tengah berada di dalam kapal yang nyaris tenggelam.

Dia menyebut Ketinggian air telah mencapai setinggi betis orang dewasa karena kapal mengalami kebocoran.

“Ada kebocoran pak air setinggi betis. Dan kalau dibiarkan beberapa hari bisa semakin naik airnya,” kata ABK MT Ocean Star asal Jeneponto itu saat dihubungi pewarta.

Tak hanya itu, bahwa beberapa ABK lainnya saat ini juga telah jatuh sakit.

BACA JUGA : Suami Laporkan Istri Karena Selingkuh dan Mengirim Konten Porno

“Sebagian ada yang sakit pak sebagian lagi masih sehat,” jelasnya.

Kendati demikian, dirinya bercerita bahwa awal mula kapal yang ditumpanginya bersama 20 ABK lain ittu ketika PT Niaga Sipping Internasional merekrut Kapal Motor (KM) Ocean Star.

Perekrutan itu disebut langsung oleh direktur PT Niaga Sipping, ia adalah Nia Ulan Ulandari Bagus.

Pada tanggal 8 Februari 2021, Amir Hamza bersama ABK lainnya join di pulau Batam.

BACA JUGA : KRONOLOGI LENGKAP! Alasan Rian Dibunuh dan Dibakar Karena Cinta Segitiga Sesama Jenis

“Tanggal 10 saya diantar ke kapal yang letaknya di Tanjung Uban Batam. Tanggal 8 Maret kapal kami bertolak dari Tanjung Uban menuju Wini NTT dan tiba tanggal 16 Maret 2021 pukul 00.00 WIT,” ungkapnya.

Berada di Wini NTT selama beberapa hari, para ABK kemudian diberangkatkan lagi menuju ke Dili Timor Leste pada tanggal 2 April sekira pukul 23.05 WIT. Alhasil, mereka ditelantarkan hingga tak dipedulikan lagi hingga saat ini.

“Sesampainya kami di Timor Leste kapal kami tidak pernah di operasikan oleh pihak pencarter di Timor Leste,” terangnya.

BACA JUGA : VIDEO: Penampakan Matahari Terbit di Utara di Jeneponto Sulsel

Kata dia, jabatan dirinya di kapal itu adalah Masinis yang bekerja pada bagian mesin.

Ironisnya, Hamzah bersama rekan lainnya tak menerima gaji apapun selama empat bulan mengabdi di kapal tersebut. Untuk dirinya, dia seharusnya menerima upah senilai kurang lebih Rp100 juta.

“Adapula keluhan kami di kapal pertama gaji kami sudah berjalan 4 bulan tidak dibayarkan,” tuturnya.

Bukan hanya gaji, para ABK tersebut yang belum dibayarkan juga kebutuhan sehari-hari mereka seperti makan, minum juga tak diberikan.

BACA JUGA : TEGAS! dari Kapolri untuk Kapolda dan Kapolres Minta Berantas Premanisme di Wilayahnya

“Suplay bahan bakar dan air tawar beserta makanan terakhir tanggal 11 Mei kami dikasih dan tanggal 1 Juni semua sudah habis. Dan sampai sekarang ini kami tidak di suplay lagi bahan itu,” sedihnya.

Ia dan ABK lainnya hanya mengandalkan uluran tangan dari ABK kapal lain untuk bertahan hidup.

“Adapun yang membantu kami yaitu dari pihak KBRI itupun makanan seadanya dan tidak ada air tawar yang ada hanya air botol kemasan untuk minum saja,” ucapnya.

Bahkan, untuk keperluan memasak, mereka hanya mengandalkan air hujan.

“Jami tadah itulah yang kami pake untuk memasak di kapal itupun kalau hujan turun pak, yang kami harap disini perhatian pemerintah Indonesia agar dapat memulangkan kami ke kampung halaman dan beserta hak-hak kami yang selama kurang lebih 4 bulan itu di penuhi demikian pak,” pungkasnya.

Berkomentar dengan bijak!