Lapak Kios Pasar Jeneponto Diduga Tak Merata, Kadis Perindag Angkat Bicara

0
Lapak Kios di Pasar Jeneponto Diduga Tak Merata, Kadis Perindag Angkat Bicara
Hajjah Risma pedagang di pasar Turatea (lst)

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jeneponto, Sulawesi Selatan telah membangun pasar darurat untuk para korban kebakaran.

Pasar darurat itu bangun untuk menampung sejumlah para pedagang yang lapak dan kiosnya terbakar di Pasar Tradisional Karisa pada beberapa bulan lalu.

Namun, pembagian lapak tersebut justru menuai banyak sorotan dari pedagang lama.

BACA JUGA : Data Covid-19 Jeneponto Capai 537 Kasus, Jumlah Kesembuhan Juga Meningkat

Beberapa sumber yang diperoleh Suaraturatea.com, menyebut bahwa pembagian lapak itu dinilai tidak adil.

Pasalnya, ada beberapa pedagang yang mengaku tidak mendapatkan lapak. Sementara, untuk pedagang pasar di Jeneponto, justru mendapatkan lapak.

“Seharusnya ini pak jangan dulu dibongkar sebelum ada pi tempat untuk jualan,” ujarnya salah satu pedagang yang enggan disebut namanya.

Polemik itu kemudian membuat Kepala Dinas Peindustrian dan Perdagangan Jeneponto, Muh Jafar angkat bicara.

Jafar mengaku, banyak pedagang baru yang mendapatkan lapak. Hal itu dikarenakan kapling yang disediakan jumlahnya sangat banyak.

BACA JUGA : Lagi… Pengantar Jenazah di Gowa Lakukan Aniaya ke Sopir Truk

“Iya benar, banyak yang mendapat lapak ditempat realokasi pedagang baru,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (18/11/2020).

Dia membandingkan, bahwa jumlah pedagang lama di pasar karisa hanya 827 orang. Sedangkan, kapling yang disediakan oleh pihaknya berjumlah 1167 kapling.

"/Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Jeneponto, Muh Jafar.

“Pedagang lama kita cuman 827. Sedangkan, kapling yang disediakan 1167, akhirnya kapling yang kosong itu dimanfaatkan lah orang-orang yang punya naluri bisnis untuk berdagang,” jelasnya.

Dia mengaku, bahwa ada juga pedagang baru yang mendapatkan lebih dari satu lapak. Alasanya banyak persediaan.

BACA JUGA : Peristiwa Kebakaran Rumah di Gowa Rata dengan Tanah

“Ada juga pedagang baru yang mendapatkan dua lapak karena memang banyak persediaan,” tegasnya.

Menurut dia, hal yang salah jika jumlah pedagang lebih banyak ketimbang kapling. Olehnya itu, persediaan kapling untuk saat ini mencapai dua kali lipat.

“Yang jadi persoalaan seandainya jumlah pedagang lebih banyak daripada kapling. Ini kapling hampir dua kali lipat jadi, memungkinkan orang dapat lebih dari satu,” tukasnya.

Dia menyebutkan, ada juga beberapa pedagang yang mempunyai usaha besar, sehingga membutuhkan lapak lebih dari satu.

BACA JUGA : UPDATE: 1 ASN dan 3 Warga Pasien Covid-19 di Jeneponto Sembuh

Untuk ukuran kaplingnya itu bervariasi, mulai dari ukuran 3*3 untuk penjual pakaian, penjual sayuran 2*2, penjual ikan 2*3.

“Misalnyakan ada juga pedagang yang punya usaha besar, saya membutuhkan kapling lebih dari satu, kan kapling kita bevariasi ada 3*3 untuk penjual pakaian, penjual sayuran 2*2, penjual ikan 2*3 berbeda- beda. Tergantung dari pergitungan kita bahwa untuk jenis dagangan kita,” terangnya.

Dia menambahkan, memang benar bahwa pedagang baru tersebut bukan korban kebakaran.

“Kalo pedagang baru itu bukan korban kebakaran, yang korban itu pedagang lama yang jumlahnya 827, 1167 kapling itu menampung seluruh pedagang lama dan pedangan baru,” pungkasnya.

| Penulis: Arya Pratama
| Editor  : Reza Demil

TONTON VIDEO LAINNYA:

Berkomentar dengan bijak!