Kasus Sianida Jessica : Gengsi Istana Versus Sampoerna

0

Penulis : Adnan Husain

PERSIDANGAN kasus kopi bersianida yang mendudukan terdakwa Jessica, untuk kategori sidang terpanjang bisa saja masuk dalam daftar Museum Rekor Indonesia (MURI) atau bahkan mungkin Guiness Book Of The Record. Terhitung, sejak sidang digelar mulai Juni lalu hingga saat ini, sudah masuk bulan ke enam. Luar biasa.

Hebatnya lagi, sidang tersebut disiarkan secara live oleh dua stasiun televisi, TV One, Inews TV dan Kompas TV. Untuk sekian detik saja, pengiklan harus merogoh kocek hingga puluhan juta. Apalagi, di waktu prime time nilainya bisa berlipat-lipat. Berapa miliar yang habis untuk sekali sidang tayangan langsung mulai pagi hingga dinihari itu.

Belum lagi, sejumlah saksi ahli yang dihadirkan. Bukan negara yang membayar, tetapi ditanggung yang berperkara. Khususnya bagi terdakwa Jessica yang juga menghadirkan saksi ahli dari luar negeri.

Pengacaranya, Otto Hasibuan, yang kabarnya dibayar dolar per jam, turut meraup untung banyak. Bukan lagi kecipratan . Pengacara Batak itu, pastinya berharap sidang makin lama sehingga pundi-pundinya juga bertambah. Namanya pun makin tenar karena diliput televisi. Damn, I love this case, begitu gumam Otto.

Padahal kalau dipikir, kasusnya biasa-biasa saja. Korbannya pun hanya satu. Alur ceritanya mirip dengan kematian aktifis HAM, Munir, yang bisa dikatakan luput dari perhatian jurnalis. Bedanya, hanya media yang digunakan. Mirna karena Sianida sedang Munir, Arsenic.

Dari sudut pandang media, kasus Munir lebih seksi untuk diblow up. Sebab, almarhum adalah penggiat HAM yang sudah mendunia. Apalagi disebut-sebut korban sengaja dibunuh melalui operasi intelijen lantaran sepak terjangnya yang membahayakan wibawa pemerintah.

Siapa Jessica? Siapa Mirna? Ini yang menjadi pertanyaan publik. Keduanya hanya gadis biasa, sama-sama kuliah di Australia dan secara kebetulan terkenal setelah kasus ini. Dimulai dari Jessica. Orang tua gadis yang suka berpakaian putih itu, adalah seorang pengusaha plastik. Omsetnya tidak banyak-banyak amat. Namun, dikalangan warga Tionghoa, kata seorang teman, mereka sudah mahfum.

Paman Jessica adalah seorang taipan. Raja rokok Indonesia, bernama Putra Sampoerna. Dia masuk dalam jajaran orang terkaya Indonesia bahkan dunia. Selain rokok, Putra Sampoerna juga memiliki gurita bisnis dari hulu hingga ke hilir. Tak melulu bisnis, Putra mendirikan yayasan amal dan memberikan beasiswa bagi siswa dan mahasiswa berprestasi melalui Sampoerna Foundation. Diduga kuat, Putra punya andil besar dan menggelontorkan dananya agar ponakan bisa bebas.

Lalu korban Mirna. Ayahnya, Salihin, adalah pengusaha pengiriman dokumen antar negara. Dia, disebut-sebut salah satu tokoh penting penggalang dana untuk kampanye presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Salihin punya banyak kolega dan siap membantunya. Harapannya cuma satu, menjebloskan Jessica ke penjara dengan hukuman seberat-beratnya.

Tadi siang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) sudah membacakan tuntutannya untuk terdakwa. Babak persidangan belum berakhir. Masih ada agenda sidang yakni pembacaan pledoi kuasa hukum dan vonis majelis hakim. Majelis hakim tentu bakal pusing tujuh keliling.

Minggu, 9 Oktober nanti bertepatan dengan hari ulang tahun Jessica. Apakah vonis hakim menjadi kado terindah ataukah paling pahit dalam hidupnya? Kita nantikan kelanjutnya setelah iklan yang banyak berikut ini

Berkomentar dengan bijak!