Gelontorkan Milyaran Rupiah, Mobil PCR Pemkab Jeneponto Jadi Pajangan

Bupati Jeneponto bersama kadinkes saat menerima randis PCR

SUARATURATE.COM, JENEPONTO — Mobil Polymerase Chain Reaction yang kerap disebut mobil (PCR) milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jeneponto dinilai mubazir oleh beberapa kalangan.

Hal itu ditengarai lantaran kendaraan itu jarang difungsikan dan hanya terpajang diparkiran halaman kantor Dinas Kesehatan.

Menyoroti hal itu, Ketua Fraksi Revolusi Keadilan (FRK) Alim Bahri menyebut jika pemkab Jeneponto melakukan pemborosan anggaran. Padahal, daerah mengalami defisit anggaran.

“Iya kenapa diduga bahwa bagian dari cukup merugikan keuangan daerah, pemborosan,” kata Alim Bahri kepada awak media, Senin (21/3).

Mengapa demikian kata dia, randis yang dibeli dengan menggelontorkan dana milyaran rupiah oleh pemkab hanya difungsikan beberapa kali, itu pun hanya menjelang idhul fitri.

“Apa memang digunakan atau hanya di simpan di kantor saja, atau digunakan oleh orang tertentu. Kan sampai sekarang tidak jelas penggunaannya, jadi asas manfaatnya tidak ada. Dan berpotensi merugikan keuangan daerah,” jelasnya.

Tak pelak, ia menyebut randis itu sudah disalah gunakan sebab hanya digunakan menelusuri kontak tracing bukan untuk swab massal.

“Kalau kemudian fungsinya diubah itu artinya sudah melanggar, harusnya dibahas melalui DPRD kalau ada pengalihan fungsi,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Kadis Kesehatan Kabupaten Jeneponto, Nursanty Mansur angkat bicara.

Menurutnya, randis itu memang jarang digunakan dengan alasan adanya aturan baru yang telah diterbitkan.

“Allhamdulillah kita terus melakukan pemeriksaan tetapi karena saat ini sudah ada aturan bahwa aturan untuk pelaku perjalanan sejak tanggal 8 Maret sudah tak dimintai Surat Antigen maupun PCR-nya,”ujarnya saat ditemui, Senin (21/3).

Meski demikian, kendaraan itu akan tetap difungsikan dimasa mendatang.

“Kita akan pikirkan kedepanya. Tapi kita akan tetap melakukan untuk pemeriksaan covid-19 itu sendiri tetap ada,”akunya.

Bahkan ia menyebut, randis senilai Rp. 3,5 Milyar itu memang tak digunakan secara massal sebab ada keterbatasan.

“Swab massal tidak, karena satu kali running itukan kita hanya ada 16 sampel. Jadi swab massal itu bukan mengarah kesitu memang fungsinya,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya akan mencari solusi lain agar randis tersebut tetap digunakan

“Pemanfaatan mobil PCRnya sendiri nantinya kedepan bukan hanya itu covid-19 itu sendiri banyak fungsi-fungsi lain,” pungkasnya.

Berkomentar dengan bijak!