Temukan Kami di Sini:

GAM Demo Soal Jembatan Bosalia, Arnas; Suatu Kesalahan dan Kurang Pengetahuan

0
Demo Aktivis GAM Soal Jembatan Bosalia, Arnas; Suatu Kesalahan dan Kurang Pengetahuan
Demo Aktivis GAM Soal Jembatan Bosalia, Arnas; Suatu Kesalahan dan Kurang Pengetahuan

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Arnas Aidil angkat bicara soal jembatan Bosalia.

Arnas Aidil juga adalah salah satu terdakwa yang di vonis bebas atas kasus dugaan korupsii Jembatana Bosalia ini.

Arnas menyoroti soal para aktivis yang mengatasnamakan dari Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) di Kejaksaan Negeri beberapa waktu lalu yang menggelar aksi.

Dia menilai aksi unras itu sah-sah saja. Namun, dia menekankan harus didukung oleh fakta-fakta yang terjadi pada persidangan di Pengadilan Tipidkor kota Makassar.

“Saudara Nurul Imam ini, dia tidak pernah membaca surat dakwaan, terus tidak mengetahui fakta yang terungkap di persidangan maupun keterangan saksi atau ahli,” kata Arnas.

Oleh karena itu, Arnas mengaku keberatan atas pernyataan Nurul Imam yang melakukan orasi ilmiah selaku Jenderal Lapangan pada aksi tersebut. Menurutnya, ada beberapa poin yang dilontarkan oleh pendemo dinilai sangat keliru.

“Terus dalam beberapa pernyataannya adinda Nurul Imam ini dia selalu berpendapat terdakwa itu harus di hukum kalau di sidang. Itukan suatu kesalahan dan kurang pengetahuannya,” jelasnya.

Dia menuturkan bahwa terlebih lagi Nurul Imam di sebut tak pernah membaca aturan hukum. Imam dinilai hanya memiliki keberanian dalam berpendapat saja. Tanpa memiliki dasar atau fakta.

“Apalagi ini mungkin tidak pernah membaca aturan hukum kalau hanya memiliki keberanian untuk berpendapat. Yang benar adalah, terdakwa dipersidangan tidak harus di hukum. Akan tetapi bagaimana hukum itu ditegakkan walaupun langit akan runtuh,” ungkapnya.

Arnas berpendapat jika terdakwa yang telah divonis bebas oleh majelis hakim, maka orang tersebut dinyatakan tidak terbukti bersalah.

“Dan saya sebagai terdakwa tidak terbukti bersalah haruslah dibebaskan atau di vonis bebas. Dan itu tidak haram,” katanya.

“Jika Pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang di dakwaaan kepada saya terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana. Maka terdakwa di putus lepas dari segala tuntutan. Agar di mengerti dan dipahami. Jangan hanya berpendapat copot hakimnya,” tambahnya.

Arnas menjelaskan bahwa jembatan  Bosalia tersebut sebenarnya dikerjakan dua tahap. Dimana tahap pertama itu pada tahun 2016. Tahap kedua pada 2017.

“Kemudian mengenai kenapa Jembatan itu tidak sesuai, itukan sebenarnya di kerja dua tahap. Tahap pertama itu kan di 2016 hanya pekerjaan jalan masuknya dengan pondasinya,” ucapnya.

Sedangkan di tahun 2017 tersebut pihaknya menganggarkan pekerjaan itu senilai Rp 8 milyar. Hanya saja, prosesnya gagal lelang. Sebab, tak ada rekanan yang mau mendaftar.

“Lalu uangnya yang 8 Milyar itu kembali lagi ke Kementerian Keuangan sumbernya dari DAK juga. Gagal lelang. Nah inilah persepsinya teman-teman diluar selalu jembatan itu tidak selesai dan di kerja dua tahap. Itu yang saya mau luruskan,” tegasnya.

TONTON VIDEO MURAL JOKOWI:

Dia menambahkan bahwa Nurul Imam seolah-olah membuat opini tersendiri yang sifatnya mempojokkan kelima terdakwa tersebut.

“Dia membuat opini seolah-olah jembatan ini tidak di kerja. Padahal anggarannya itu memang baru untuk pondasi. Jadi seperti itu,” papar Arnas.

Bukan hanya itu, Penyidik Polres Jeneponto yang menangani kasus tersebut juga dinilai terkesan tergesa-gesa dalam menetapkan 5 tersangka, termasuk dirinya.

“Iya berdasarkan berkas yang saya terima, ini pun diberikan di persidangan lebih duluan ditetapkan tersangka tanggal 19 Agustus. Kemudian hasil audit BPKP itu nanti dua bulan, kalau tidak salah 22 atau 30 September,” pintanya.

“Kemudian keterangan saksi ahli sekitar bulan itu juga September. Jadi artinya kami di tunduh mencuri belum tahu apa di curi. Inikan penyidiknya,” pungkasnya.

Berkomentar dengan bijak!