Temukan Kami di Sini:

DUH! Dokter di Jeneponto Kena Bogem di Forum Pembentukan Panitia Pilkades

0
Ist

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Seorang dokter, bernama Sulfian Syam diduga menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah orang.

Sulfian yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Lanto Dg Pasewang Jeneponto itu hanya polemik kritikan yang dilontarkan. Dirinya mengaku dikeroyok oleh beberapa orang, termasuk ketua BPD

Pengeroyokan itu disinyalir saat  Sulfian Syam melontarkan beberapa kritikan kepada salah seorang pejabat Pemerintah Kabupaten Jeneponto yang diketahui belakangan ini adalah seorang Kepala bagian hukum.

Debat kusir berujung pengeroyokan itu diketahui saat berjalannya pelaksanaan forum pembentukan panitia pilkades 2021 di kantor Desa Bonto Cini, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. (12/08) lalu.

Tak terima dengan perlakuan tersebut, Sulfian Syam pun langsung melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.

Sulfian Syam mengatakan aksi tak terpuji tersebut diduga dilakukan oleh inisial HM. Bahkan lebih dari satu orang.

“Kasus yang menimpa saya kemarin adalah sebuah proses demokrasi. Kami melakukan diskusi bersama Ketua BPD. Namun di forum, Ketua BPD sangat tidak emosional,” akunya kepada wartawan.

Saat muncul di forum tambah dia, dirinya hadir sebagai tamu undangan dari pihak panitia proses pembentukan panitia desa. Hanya saja, saat melontarkan kritikan yang dinilai bagian demokrasi.

“Selama diskusi berlangsung saya mengkritisi beberapa penjelasan dari Kabag Hukum. Pada dasarnya sesuai aturan dalam pembentukan panitia pilkades desa 2021, mestinya harus disertakan LPJ,” tambah Sulfian.

Selain itu, pihak PMD dan Kabag Hukum mengusulkan satu orang perwakilan di tiap dusun untuk memberikan saran  dalam susunan panitia pilkades. Namun, dirinya menilai susunan itu tidak memenuhi keterwakilan setiap dusun di kepanitiaan Pilkades.

“Saya tidak mengkritisi, namun teman-teman merasa tidak ada keterwakilan sehingga ribut. Alhasil memancing emosi ketua BPD dan menunjuk peserta. Saya hanya menyampaikan dengan kondisi yang ada. Seharusnya sebagai Ketua BPD mestinya lebih bijak dalam mengambil sikap di dalam forum,” ucap Sulfian.

Saat itu pula, Ketua BPD naik pitam karena tak terima dirinya disebut sebagai orang kurang bijak.

“Saat itu ketua BPD tidak terima dan terjadilah keributan dengan teman-teman hingga berujung aksi pengeroyokan terhadap diri saya,” bebernya.

Sulfian mengaku, bahwa posisi dirinya saat itu langsung diserang oleh sejumlah orang dari arah yang berbeda. Termasuk melibatkan Ketua BPD.

“Ada beberapa yang melakukan dorongan kedepan dan memukul saya. Spontan saya balik kedepan ketua BPD ikut terlibat memukul saya dari arah depan,” bebernya.

Saat kejadian berlangsung warga setempat sempat melerai. Untungnya, warga yang melerai itu langsung membawanya ke Polsek setempat. Dia juga mengaku telah di visum untuk melakukan pembuktian sebagai korban pengeroyokan.

“Berdasarkan hasil visum dokter, saya mengalami luka robek dibagian bawah kelopak mata serta luka memar dibagian dahi termasuk luka robek pada bagian di dagu,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, kejadian ini sangat disayangkan, apalagi itu dilakukan oleh Ketua BPD.

“Saya serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk bisa melakukan proses yang betul-betul sesuai dengan fakta-fakta hukum. Dan seharusnya ketua BPD bisa lebih menghargai forum dan tidak memancing emosi peserta untuk melakukan tindakan-tindakan penganiayaan terhadap diri saya,” tutupnya.

Sementara itu, Kapolsek Kelara Iptu Bakri belum bisa memastikan kronologis kejadian yang sebenarnya. Namun, ia mengaku laporan itu sudah berproses di Polres Jeneponto.

“Silahkan bertanya ke unit Tahbang Polres Jeneponto. Karena unit tersebut yang menangani kasusnya. Saya tidak bisa pastikan karena tidak pernah ada laporan pengeroyokan masuk di spk Polsek Kelara selama ini yang korbannya atas nama dokter sul,” ujarnya.

Iptu Bakri menambahkan, jika ia juga diundang dan hadir dalam forum itu. Hanya saja, posisi Kapolsek ini berada di kamar kecil, saat terjadi keributan. mendengar keributan.

“Kaya tidak becus pemerintahannya selama 6 tahun. Dengan keabsahan BPD legilitas BPD. Ada salah satu tidak saya tahu siapa. Yang jelas dia kritik masalah kinerja Kepala Desa. Padahal kan ini momennya pembentukan panitia,” tambahnya.

Iptu Bakri menuturkan, jika sempat terlintas dipikirannya bahwa akan terjadi kericuhan.

“Sempat saja berfikir. Ini bibit kekacauan. Bukan,” tutupya. (*)

Berkomentar dengan bijak!