Demo Hari Sumpah Pemuda, OMPI Sul-Sel Tolak Omnibus Law

0
Demo Hari Sumpah Pemuda, OMPI Sul-Sel Tolak Omnibus Law
Organisasi Mahasiswa Pemuda Intelektual (OMPI) Sul-Sul, Cabang Jeneponto saat menggelar aksi unjukrasa.

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Aksi unjuk rasa mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2020).

Mereka tergabung dalam Organisasi Mahasiswa Pemuda Intelektual (OMPI) Sul-Sul, Cabang Jeneponto.

OMPI menggelar aksi di perempatan jalan tepatnya di depan patung kuda jalan lanto daeng pasewang, Rabu (28/10/2020), dengan mengangkat isu tolak omnibus law undang-undang (UU) Cipta Kerja.

Jenderal Lapangan (Jendlap) Asrul, dalam orasinya mengatakaan, bahwa DPR-RI saat ini telah mengesahkan Omnibus Law yang mencakup aturan cipta lapangan kerja yang penuh kontoversi.

Olehnya, membuat para buruh di eksploitasi dan melarat menjadi miskin dan mendegradasi hak-hak buruh untuk kepentingan para kapital.

“Kami menolak pengesahan yang dilakukan oleh badan legislatif, pengesahan omnibus law yang justru tidak relevan dengan keadaan bangsa Indonesia hari ini,” ujarnya.

Pihaknya juga khawatir jika UU omnibus law tak segera dicabut, maka dapat menimbulka indikator yang dinilai sangat membahayakan bagi masyarakat.

“Kami dari DPD OMPI Sul-sel Kabupaten Jeneponto bersikap bahwa omnibus law tidak diterima dengan pertimbangan karena Omnibus law tidak didalami secara keseluruhan sebelum di sahkan,” terangnya.

Dia mengaku, adapun pasal-pasal yang dinilai kontoversial salah satunya adalah pasal 79 ayat 2 B dan pasal 88 UU no 32 tahun 2009.

“Pasal tersebut menjelaskan tentang Hari Libur dan pasal 88 UU no 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (UUPPLH) dapat menjerat pelaku pembakaran hutan dan lahan, tetapi pemerintah menghapusnya pada RUU Cipta Kerja,” tukasnya.

Berikut tiga poin tuntutan DPD OMPI Sul-Sel Kabupten Jeneponto.

1.Menuntut DPR-RI memberikan jaminan keamanan dan kesejahteraan rakyat terkait omnibus law.

2.Stop tindakan refresif kepolisian terhadap mahasiswa.

3. Jangan matikan gerakan mahasiswa

Penulis : Arya Pratama
Editor    : Reza Demil

Berkomentar dengan bijak!