Dampak Pandemi, Janda di Jeneponto Tercatat 340 di PN Agama

0
Dampak Pandemi, Janda di Jeneponto Tercatat 340 di PN Agama
Panitra Muda Pengadilan Agama Jeneponto, Abdul Rahman kepada wartawan, Selasa (17/11/2020).

Dampak Pandemi, Janda di Jeneponto Tercatat 340 di PN Agama

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO – Kantor Pengadilan Negeri Agama Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan melaporkan bahwa angka perceraian di wilayahya kini menembus setidaknya sebanyak 340 kasus.

Angka perceraian tersebut diinventarisir sejak bulan Januari hingga November 2020.

Meningkatnya jumlah perceraian bahwa kondisi rumah tangga pasangan suami istri di Jeneponto tidak berjalan dengan baik.

Perceraian ini disebut-sebut sebagai dampak merosotnya perekonomian seiring mewabahnya covid-19 di Butta Turatea ini. Meski faktor ekonomi jadi penyebab utama.

Dengan menembus kasus 340 kasus tercatat Janda untuk di Kabupaten Jeneponto.

Hal tersebut dikemukakan oleh Panitra Muda Pengadilan Agama Jeneponto, Abdul Rahman kepada wartawan, Selasa (17/11/2020).

“Sekarang perkara perceraianya ada yang masuk putus gugatan 340 perkara,” ujarnya.

Mayoritas perceraiaannya terjadi karena faktor ekonomi dan mabuk. Pasangan suami istri sering berselisih paham hingga terjadi pertengkaran berujung cerai.

“Rata-rata perselisihanya atau pertengkaranya masalah ekonomi dan masalah mabuk. Itu yang rata-rata, karena suaminya sering mabuk,” ungkapnya.

Para pasangan yang mengajukan gugatan cerai, kata dia, sangat kecil kemungkinan untuk rujuk kembali. Meski pihaknya sudah melakukan mediasi.

” Kita dulu nasehati mereka supaya jangan dulu masukan gugatan. Nah! kalo dia tetap masukan tetap kita terima. Nanti disaat persidangan ada namanya jalur mediasi. Mereka di mediasi sampai dua hinga tiga kali. Kalo memang sudah tidak ada jalan lanjut persidangan,” jelasnya.

Dia mengatakan, bahwa rata-rata yang melakukan perceraian didominasi perempuan usia muda. Sedangkan, perempuan yang sudah berumur tua hanya sedikit.

“Rata-rata yang saya lihat disini usia muda yang bercerai, artinya belum mapan untuk berfikir dia sudah menikah,” tandasnya.

Sementara, yang mengajukan gugatan perceraian mayoritas adalah pihak perempuan. Sedangkan, untuk pihak laki-laki itu kurang.

“Baru rata-rata yang menggugat adalah pihak istri, jaran pihak laki-laki yang memasukan gugatan,” pungkasnya.

| Penulis: Arya Pratama
| Editor  : Reza Demil

TONTON VIDEO NENEK DIPASUNG DI BONE:

Berkomentar dengan bijak!