Temukan Kami di Sini:

Bocah AP Dicungkil Matanya, Begini Cerita Kesaksian Lingkungan

0
Bocah AP Dicungkil Matanya, Begini Cerita Kesaksian Lingkungan
Bocah AP Dicungkil Matanya, Begini Cerita Kesaksian Lingkungan

SUARATURATEA.COM, GOWA – Kesaksian Kepala Lingkungan Lembang Panai, H. Bella saat terjadinya insiden penganiayaan yang dialami bocah enam tahun AP yang dilakukan satu keluarga.

Dikatakan dirinya, bahwa saat itu baru saja pulang dari pemakaman usai kakak korban (DS alias Dandy) meninggal dunia.

“Saya pulang dari kuburkan kakaknya, di rumah, sama pak Babinsa, setelah datang Bayu itu (mengatakan) cepat ki pak Lingkungan, nabunuh anaknya (Acce dan di sana, samaki pak babinsa,” kata Bella. Kamis (9/9/2021) di lokasi.

BACA JUGA: 300 CPNS di Gowa yang Lolos Administrasi Belum Ambil Kartu Tes
BACA JUGA: PPA Kabupaten Gowa Cari Keluarga Dekat Bocah AP untuk Hak Asuh, Hasilnya?

Saat tiba di lokasi, orang sekitar di rumah pelaku di Lingkungan Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggimoncong takut masuk memasuki rumah saat terjadi.

“Sampai di sana, takutki orang masuk. Nabilang Babinsa, kita duluan masuk (lingkungan) jadi saya masuk. Setelah sampai di dalam, saya lihat baik-baik dulu, bapaknya pegang kepalanya, neneknya itu, Barrisi, minta sandar begini (ke belakang), baring-baring begini, pegang kakinya. Nah, ini mamanya cungkil matanya,” jelas Kelapa Lingkungan itu.

Sementara itu, saat kejadian, dirinya sempat menegur perbuatan keji satu keluarga, paman, ibu, bapak dan kakeknya untuk tidak melakukan perbuatan pencungkilan itu. Dari percakapan mereka, pihak keluarga mengaku bahwa ada sesuatu benda yang ada di dalam bola mata korban, sehingga mereka hendak mencungkil mata sebelah kanan korban hingga akhirnya mengalami pendarahan serius.

Selain demikian, bahwa dirinya sempat terlibat saling dorong saat dia berusaha merampas korban dari perilaku para keluarga yang terlibat.

BACA JUGA: DUH! Dokter di Jeneponto Kena Bogem di Forum Pembentukan Panitia Pilkades
BACA JUGA: Misteri, Siapa Pencipta Aksara Jawa?

“Pamannya berdiri di sini, yang jenggot-jengot toh. Kutanyaki ih, mau nubunuh anakmu, nabilang tidak, saya ini mau obati, ada di dalam matanya yang mau saya kasih keluar, tiga kali ku peringati tidak mengerti, langsungmi ditarik tangannya sama pak Babinsa, itu anak-anak terpaksa saya ambilki, kubawa ke luar, tidak sampai di pintu, saya dipeluk dari belakang sama neneknya Mida disitu. Nah disitu na ambil pak Babinsa, nabawa lari anak-anak. Saya ditolong sama Jupri, jadi terlepas tanganku, dia berteriak, satu rumah, anakku diculikki, kalau ada apa-apanya saya keberatan, kayak mau terpancing emosinya,” akunya.

Diketahui, dalam insiden ini dua orang menjadi korban penganiayaan, kakak AP, DS ditengarai juga menjadi korban ritual pesugihan, DS tewas karena dicekoki garam dua liter hingga mengalami pecah pembuluh darah. (*)

Berkomentar dengan bijak!