Temukan Kami di Sini:

BLUD RSUD Jeneponto Munculkan Polemik Baru; Honor Akan Kemana

0
RSUD Latopas Jeneponto (ist)

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO- Ratusan Tenaga kesehatan (nakes) yang mengabdikan diri secara sukarela atau honorer di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Jeneponto terancam di PHK.

Menurut  Kasubag Umum Kepegawaian RSUD Jeneponto Fitriani mengatakan, saat ini jumlah tenaga honorer mencapai 800 orang sedangkan ASN sebanyak 238 orang.

“Kalau BLUD nanti. Tapi kan kita baru menghitung unit cossnya. Berapa jumlah tenaga dan penggajiannya,” ujar Fitriani kepada wartawan. Jumat, (8/10) pekan lalu.

Hingga kini managemen RSUD Jeneponto masih mengkaji berapa jumlah nakes yang akan di PHK dan langkah itu akan dilakukan secepat mungkin.

“Itu belum di tahu berapa persen. baru membuat berapa jumlah tenaga yang ada. Kalau kemarin di RS Bantaeng itu, 600 lebih ASN dan non ASN. Berarti signifikat perbedaanya dengan RS Lanto. Tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah selesai perhitungannya,” ungkapnya.

Bahkan ia menyebut pemangkasan tenaga honorer itu bukan tanpa alasan. Apalagi saat ini RSUD Jeneponto masih kategori type C.

“Memang kalau RSUD untuk type C itu sudah kelebihan tenaga,” bebernya.

Meski demikian, langkah yang akan diambil oleh pihak managamen masih akan dipikir lantaran masih ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.

“Cuman kita berfikir begini, mau di kemanakan putra putri daerah kalau kita tidak pekerjakan. Khususnya tenaga kesehatan,” tuturnya.

Akibat banyaknya tenaga honorer di rumah sakit berbanding terbalik dengan pendapatan rumah sakit.

“Harus seimbang antara pemasukan dan pengeluaran. Pemasukan itulah yang kami akan hitung di perencanaan,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Jeneponto Kaharuddin Gau angkat bicara soal terancamnya ratusan honorer yang akan di PHK.

“Yang pastinya tidak setuju kalau rumah sakit dalam keadaan normal. Dalam kondisi keuangannya. Tapi Sekarang semua orang tahu bahwa bukan cuman rumah sakit. Tapi semua SKPD pada kondisi posisi yang tidak stabil dalam kondisi keuangan. Karena Adanya Corona Sekarang,” ungkapnya usai dikonfirmasi awak media. Rabu, (13/10) malam.

Semestinya pihak RSUD berpikir sebelum mengambil keputusan tersebut. Mengapa, karena akan menimbulkan polemik baru.

“Kalau hal itu memang, karena memang kondisi tidak bisa dipungkiri saat sekarang. Wajar-wajar saja. Cuma kembali pada satu hal harus dipikirkan setelah anak-anak dipangkas mau dibawa kemana,” katanya.

Bahkan kata dia, jika kondisi keuangan rumah sakit kembali normal, maka ratusan tenaga honorer tersebut wajib dipekerjakan kembali. Jika benar di PHK.

“Harus dipikirkan untuk dipekerjakan kembali yang honorer itu. Setelah rumah sakit dalam kondisi normal. Nah saya pikir rumah sakit kalau memang dia bekerja dengan maksimal, saya itu jauh lebih maksimal dalam penggunaan anggaran,”cetusya.

Terkait hal itu, Kaharuddin Gau mengaku jika informasi yang muncul belum terdengar oleh pihak DPRD, namun setelah membaca berita, hal itu baru ia ketahui.

“Jelasnya kan untuk wacana pengurangan kuota honorer kan belum sampai ke DPRD tentang hal itu. Jadi kalau itu terjadi yang pastinya kita akan minta bagaimana rumah sakit dalam hal pengurangan tersebut,” bebernya.

Terlebih dahulu, sebelum mengambil kebijakan tersebut kita sebenarnya sudah berkonsultasi.

“Perlu dipahami, jika BLUD diberlakukan maka bisa saja terjadi pengurangan, bisa saja tidak, itu tergantung dari anggaran yang dipegang oleh pemerintah di rumah sakit,” terangnya.

Jika memang roda keuangan rumah sakit mampu dikelola secara maksimal maka pihak rumah sakit bisa memperoleh intan yang lebih besar.

” Saat ini pengurangan tidak akan terjadi. Kecuali anggaran tidak signifikan bisa saja terjadi pemangkasan, namun perlu dikaji kembali, setelah itu terjadi maka anak-anak ini akan dibawa kemana,” sambungnya.

Namun, jika kondisi keuangan rumah sakit kembali normal, tentunya honorer yang sudah dipecat atau PHK, harus di rekrut kembali.

“Setelah dipangkas bisa saja terjadi. Namun harus dipikirkan untuk direkrut kembali setelah pendapatan rumah sakit kembali normal. Kita tidak bisa merugikan orang banyak terlebih warga kita,” harapnya.

Berkomentar dengan bijak!