Aktivis Kecam Tindakan Arogan Bupati Bulukumba; Jika Tak Mau Dikritik Jangan Jadi Pejabat

Aktivis Kecam Tindakan Arogan Bupati Bulukumba; Jika Tak Mau Dikritik Jangan Jadi Pejabat
Aktivis Kecam Tindakan Arogan Bupati Bulukumba; Jika Tak Mau Dikritik Jangan Jadi Pejabat

SUARATURATEA.COM, BULUKUMBA – Video arogansi Bupati Bulukumba, Sulawesi Selatan, Muchtar Ali Yusuf yang mengamuk dan menendang ban bekas vira di jejaring media sosial (Medsos).

Detik-detik video berdurasi 2 menit 50 detik tersebut memperlihatkan sosok Andi Utta sapaan akrabnya keluar dari gerbang kantor bupati.

Setiba di depan massa, Andi Utta yang saat itu menggunakan baju batik dan kecamata hitam langsung mengamuk dan menendang ban yang tergeletak di aspal.

Kejadian itupun sontak membuat anggota Satpol PP yang mengawal jalannya aksi langsung memukuli para pendemo. Kericuhan pun tak terhindarkan.

Peristiwa itu terjadi di samping bundaran, tepat di depan pintu gerbang kantor Bupati Bulukumba, Jalan Jendral Sudirman, Kecamatan Ujung Bulu, Senin, (14/6/2021) kemarin.

Tindakan orang nomor satu di Bumi Panrita Lopi itu mendapat sorotan pedis dari kalangan aktivis maupun masyarakat.

Salah satunya dari Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM). Komando Departemen Investigasi Advokasi (Komdep) Nurul Imam Rahman menyayangkan tindakan arogasi pejabat publik itu dalam menghadapi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bululumba saat menggelar aksi unjuk rasa.

“Tindakan yang di pertontonkan oleh Bupati Bulukumba sangat tidak mencerminkan seorang pejabat negara,” ujarnya saat dikonfirmasi media via telepon, Selasa (15/6/2021) malam.

Bagi dia, hal itu dinilai tidak pantas dilakukan oleh pejabat apalagi sekelas Bupati. Kata dia, kericuhan terjadi akibat dari profokasi bupati.

“Karena idealnya sekelas bupati harus menjadi teladan untuk rakyatnya bukan malah datang menendang ban mobil bekas dan memprofomasi sehingga terjadi kericuhan,” jelasnya.

Pria berambut gondrong itu berpendapat, bahwa sejatinya seorang pemimpin adalah mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Dia menuturkan, sikap Bupati tersebut tidak menunjukkan layaknya seorang pejabat publik, dan bersebrangan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Bupati itu adalah pemimpin penyelenggara pemerintahan daerah yang harusnya memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” ungkapnya.

Bahkan, sikap yang dipertontonkan oleh bupati itu tak jauh bedahnya dengan premanisme.

“Bukan malah mempertontonkan tindakan yang muaranya lebih pada premanisme, jika tak mau di kritik maka jangan jadi pejabat publik,” terangnya.

Dia menambahkan, bahwa atas tindakan tersebut dinilai sangat mencoreng sistem demokrasi di bangsa ini. Apalagi juga bertentangan dengan regulasi.

“Tindakan itu tak diperbolehkan oleh regulasi, sedangkan menyampaikan pendapat di muka um adalah hak konstitusional yang di atur dan dilindungi oleh undang-undang,” pungkasnya.

VIDEO BUPATI BULUKUMBA:

Berkomentar dengan bijak!