Temukan Kami di Sini:

Aksi Protes, Pemilik Lahan Karalloe Minta Ganti Rugi Yang Sesuai Ke Jokowi

0
Puluhan pemilik lahan di waduk karalloe yang meminta harga lahan yang dialih fungsikan dibayar dengan harga yang sesuau

SUARATURATEA.COM, JENEPONTO- Puluhan warga yang memiliki lahan di bendungan Karalloe, Gowa, Sulawesi Selatan melakukan aksi damai dengan membentangkan sejumlah spanduk bernada protes ke Pemerintah. Minggu (8/1).

” Pak Jokowi tolong lahan kami belum dibayar,” tulis warga dalam bentangan spanduk itu.(9/1/2022).

Tak hanya itu, ” Tanah kami dirampas, Kami hanya butuh keadilan, tolak mafia tanah dari pompengan,” ujar Hj Suri salah seorang warga yang melakukan aksi protes saat ditemui Suaraturatea di lokasi.

Sehingga kami meminta keadilan kepada Presiden Joko Widodo agar lahan yang sejatinya diresmikan tahun lalu itu dibayar dengan harga yang sesuai.

Selain itu, ia mengaku lahan yang ingin dibayar oleh pihak terkait hanya satu petak saja padahal kata dia, lahan yang ia miliki ada dua petak.

” Itu sawah di Biring Bulu, dua petak kenapa hanya satu yang diukur padahal seharusnya ada dua yang diukur anehnya, kedua petak itu diklaim dan hanya satu petak yang ingin dibayarkan,” tuturnya.

Bahkan, ia mengatakan sejak lahan itu dialih fungsikan menjadi bendungan sumber mata pencaharian mereka hilang.

Alhasil, kondisi yang dialaminya saat ini sangat memprihatinkan lantaran hanya menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian.

“Mata pencaharianku hilang pak, inimi yang saya tunggu pak, tujuh tahun tidak dapat penghasilan,” ucap Suri sambil berteriak histeris.

Apalagi saat ini ia merasa kebingungan memikirkan pembayaran sekolah untuk anak cucunya kelak apabila lahannya belum dibayar oleh pemerintah.

“Itumi bagaimana anak-anakku dan cucuku nanti kalau tidak dibayar sesuai dengan harga,” tutur Suri sembari menyeka air matanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Husain Sitaba, ia menuntut pihak Balai Pompengan Kabupaten Gowa agar melakukan transparansi harga dan menyesuaikan luas lahan yang dinilai merugikan.

” Ada beberapa dokumen di ubah. Seperti luas tanah yang berbeda dengan Surat Pemberitahuan
Pajak Terutang (SPPT),”bebernya.

Maka dari itu, ia curiga adanya dugaan praktek mafia tanah di tubuh Balai Pompengan yang bermain.

” Mereka tidak mau terus terang berapa harganya bahkan nilai jualnya diubah. Seperti harga Rp 150.000 juta dinaikkan lagi Rp 175.000 juta dengan dasar itu otomatis harga yang dipatok tak sesuai,” kata Husain.

Hal yang sama juga dialami H. Sunu, warga yang bermukim di desa Paitana di Jeneponto itu sangat kecewa karena lahan yang ia miliki dilokasi itu juga belum dibayar padahal lahan yang ia miliki mempunyai bukti surat kepemilikan tanah.

“Lahanku juga belum dibayarkan, saya punya bukti sertifikat,” ungkapnya sambil memperlihatkan sertifikatnya.

Ia pun sudah mencoba beberapa kali meminta apa alasan pihak Pompengan sehingga harga yang ditawarkan tak sesuai.

Namun pihak Pompengan tetap bersikukuh tak ingin menyebutkan berapa nilai dari harga lahan yang sebenarnya, malah kata dia, pihak pompengan mengatakan tidak usah kita tahu.

Dengan dalih seperti itu sehingga ia beserta warga yang memiliki lahan dilokasi itu bersikeras tak ingin menerima biaya ganti rugi karena tak sesuai

Meski demikian, puluhan warga yang melakukan aksi protes itu sudah melakukan berbagai upaya hukum dengan mengajukan tuntutan di pengadilan Negeri Kabupaten Gowa.

” Kami sudah melakukan upaya hukum dengan pengacara di pengadilan Sungguminasa. Sudah tiga kali ikut sidang,” terang Sunu.

Sementara itu, pihak Pengelola Halimah enggan memberikan komentar saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Masih ada atasan saya dan pimpinan yang lebih berwenang.

” Datang saja ke BBWS Pompengan Jeneberang. Maaf, ini juga hari libur dan waktu istirahat. Mohon maaf sekali,” akunya.

Halimah juga beralasan jika tanggung jawabnya selama ini hanya sekedar tugas.

” Saya akan kena teguran kalau saya menyalahi apa yang telah di perintahkan atasan karena saya sendiri bekerja atas dasar surat tugas dari atasan bukan atas kemauan saya,” imbuhnya.

Berkomentar dengan bijak!