3 Alasan Mengapa Kita Dianjurkan Senantiasa Bertobat

0
Allah SWT menyerukan hamba-Nya untuk terus bertobat. Ilustrasi tobat Foto: Thoudy Badai/Republika

SUARATURATEA.COM – Tobat bagi seorang hamba bukan sekadar meminta ampunan, lebih dari itu ada banyak hikmah dan rahasi di balik anjuran bertobat.

Ada tiga cara untuk memaknai tobat. Pertama, tobat adalah bukti cinta Allah kepada manusia. Allah mencipta dan memelihara manusia dengan landasan rasa kasih sayang. Allah SWT berfirman:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ “Segala puji bagi Allah, Rabb (pencipta dan pemelihara) alam semesta, Yang Mahapengasih dan Penyayang” (QS Al-Fatihah [1]: 2-3).

Salah satu bukti kasih sayang Allah terhadap manusia adalah menganugerahi berbagai macam nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan, terhadap orang yang berlumur berdosa sekalipun.

Allah SWT pun terus menerus membukakan pintu ampunan bagi mereka asal ia bertobat. Dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman:

يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ لَو أَتَيْتَنِيْ بِقِرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لقِيْتَنِيْ لاَتُشْرِك بِيْ شَيْئَاً لأَتَيْتُكَ بِقِرَابِهَا مَغفِرَةً

“Wahai manusia, sekiranya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi kemudian kamu bertemu Aku dengan dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan seisi bumi pula.” (HR Tirmidzi).

Kedua, tobat adalah sarana relaksasi (penenangan jiwa) dan perenungan. Setiap orang membutuhkan istirahat. Perjalanan hidup sering membuat jiwa sesak dan penat.

Tobat adalah sarana yang tepat untuk berhenti sejenak dari berbagai aktivitas, menjernihkan pikiran, mengevaluasi perjalanan yang telah ditempuh dan mengingat-ngingat kembali cita-cita, misi atau tugasnya di muka bumi ini. Karena itu, Rasulullah SAW menyempatkan diri untuk bertobat seratus kali setiap hari. Dalam hadits lain dikatakan tujuh puluh kali.

Ketiga, tobat sebagai sarana tazkiyatunnafs (penyucian jiwa). Jiwa manusia memiliki dua kecenderungan, yaitu kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan berbuat jahat. Keduanya silih berganti menguasai jiwa. Ketika ia berbuat baik, tercerahkanlah jiwanya. Hati pun menjadi sehat dan bersih. Tapi ketika berbuat jelek, kotorlah jiwanya.

Menurut Rasul, ketika seseorang berbuat jelek, hatinya ternoda dengan satu titik hitam. Saat berulang kali melakukan perbuatan jelek, semakin banyak pula titik hitam itu, sehingga hitamlah jiwa. Tobat adalah sarana terbaik untuk mensucikannya kembali.

| Sumber : Harian Republika

Berkomentar dengan bijak!